Saturday, January 18, 2020

Tempat Paling Sunyi: Palung dengan Ragam Kesunyian di Dalamnya



“Ia rela bersakit-sakit dan menelan air mata sendiri, tanpa memiliki kuasa untuk menunjukkan penderitaannya tersebut.”

Membaca Tempat Paling Sunyi ini, seperti menyelami perkara betapa manusia sesungguhnya tak ada apa-apanya bila berurusan dengan cinta. Cinta, dalam kaitan eratnya pada sebuah hubungan, acap menjadi muasal segala perkara pelik yang menyiksa. Cinta, setidaknya yang terdedah di buku ini, adalah jangkar yang membawamu ke palung yang sesaknya tak terperi. Ia mengantarkanmu pada muara keputus-asaan. Kekecewaan. Tindak kekejaman. Dan ruang berduri serta alasan terkuat untukmu berniat bunuh diri.
           
Perkara cinta  tersebut bukanlah sesuatu hal yang dilebih-lebihkan. Lewat Tempat Paling Sunyi, si penulis—Arafat Nur, hendak menunjukkan sedikit polemik dari banyak hal pelik di kehidupan manusia dalam menghadapi perkara cinta. Dituturkan sebagai cerita di dalam cerita—sekaligus penggabungan peran, sebab di bagian seperempat akhir terdapat bagian bertemunya si narator dengan tokoh-tokoh cerita—kisah ini dimulai atas sebuah keluarga, pasangan Mustafa dan Salma.

Pasangan tersebut tinggal di kota Lamlhok, sebuah daerah kecil di kota Aceh. Adalah Mustafa, lelaki yang selama delapan tahun berpindah dari tempat ke tempat. Sebab selepas tamat sekolah menengah atas, hidupnya bagai kelana sepi tak berujung. Ia lelaki yang cerdas sebenarnya, kendati nilai kelulusannya tak terlalu besar. Kecerdasan di sini mengacu pada pengetahuannya yang bisa dibilang cukup luas, juga keterkaitannya terhadap buku. Ia mencintai kasusastraan dan kegiatan menulis novel sering ia lakukan di sela waktu kerjanya, sebagai juru ketik di Lamlhok Computer. Kelak, novel pulalah yang juga memicu derai penderitaannya.

Pertemuannya dengan Salma terjadi tanpa sengaja. Mereka bertemu di sebuah kedai bilangan Hagu di suatu siang pada tahun 1994. Komunikasi keduanya bermula ketika Mustafa tahu-tahu menanyakan pendapat Salma mengenai novel. Dan kala Salma menjawab, “Novel adalah dunia yang tak pernah mati-mati!” Saat itu Mustafa yakin, ia telah bertemu gadis cerdas, anomali dari kebanyakan orang-orang di tempat itu yang masih dibilang kolot dan nol besar soal peduli atas karya sastra.
           
Dari pertemuan kecil tersebut, keduanya pun menjadi sering untuk bersua kembali. Hubungan Mustafa dan Salma kiat dekat. Terkhusus bagi Mustafa, Salma adalah gadis langka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sementara di mata Salma, Mustafa adalah bujang ideal sebab selain baik budinya, ia meyakini pekerjaan Mustafa yang akan mencukupi kehidupan rumah tangga mereka. Terlebih ibunya, Syarifah, pun setuju atas hubungan mereka. Kendati ia tahu fakta bahwa Mustafa sebatang kara—perkara profesi Mustafalah yang membuatnya yakin.

Akan tetapi, Mustafa salah. Nyatanya Salma adalah gadis bodoh yang kebetulan saja melontarkan perkataan cerdas. Gadis itu persis ibunya, mewarisi tabiat kolot dan dungu manusia pada zaman itu. Ialah mereka yang jauh dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan hanya peduli tentang kemewahan serta harga diri. Kelak ia begitu menyesali keputusannya menikahi gadis itu. Berangkat dari kedunguan istrinya, rumah tangga Mustafa kerap diguncang cekcok keras, kendati hanya bermula dari perkara remeh-temeh. Pun ada perkara lain, bahwa yang tak diketahui Salma dan ibunya, adalah pekerjaan Mustafa yang sebenarnya seorang juru ketik. Selama beberapa waktu, mereka meyakini Mustafa seorang pegawai pemerintah, sebab penampilan sehari-harinya ketika berangkat kerja adalah bercelana jins dan berkemeja rapi—penampilan para pegawai negeri di zaman itu yang jamak didapati. Atas prasangka demikian, Salma kerap meminta kehidupan yang lebih mewah. Memiliki banyak perabot. Memanjakan diri berbelanja. Dan sering pergi jalan-jalan. Namun, Mustafa jelas sukar mengabulkan tuntutan istrinya tersebut. Dari situlah acap menjadi pemicu pertengkaran mereka. Salma yang terbiasa hidup enak sebab ayahnya yang telah meninggal adalah seorang yang amat berkecukupan, sulit menerima kenyataan suaminya yang sesungguhnya miskin. Ditambah lagi, Salma sering menuding Mustafa dengan tudingan yang bukan-bukan. Semisal anggapannya bahwa Mustafa menggelapkan gajinya, sampai tuduhan bahwa suaminya itu memakai gajinya sebagai bekal buat main serong bersama perempuan lain.
           
Hubungan rumah tangga yang lebih banyak diisi dengan pertengkaran tersebut, membuat Mustafa merasa seperti masuk liang neraka. Atas kedunguan istrinya, ia kerap memaki perempuan itu dengan “Keledai”, umpatan yang malah acap ia ucapkan menjadi “Kedelai”. Sementara Syarifah, alih-alih diharapkan menjadi pihak penengah, ia justru selalu membela putrinya. Kendati dalam banyak persoalan, menunjukkan bahwa Salma-lah biang dari masalah di antara mereka. Sehingga telaklah penderitaan Mustafa di hadapan dua perempuan yang hanya mementingkan ego masing-masing itu.
           
Barangkali, Mustafa akan menderita selamanya, dan ia tak memiliki kesempatan baginya untuk menulis novel sebab sikap istrinya yang tak mendukung sama sekali,  kalau saja ia tak bertemu dengan seorang gadis jelita, Riana namanya. Gadis itu awalnya adalah pelanggan di tempatnya bekerja. Seorang anak kuliahan sekaligus guru sekolah dasar. Bertemu dengan Riana, bagi Mustafa seperti mimpi yang terulang manakala dahulu ia kali pertama bertemu Salma. Ia terpukau. Perasaannya luluh. Dan kelak jatuh penuh dalam pelukan gadis itu. Yang lantas, perkara ini menjadi pemicu paling hebat dari pertengkarannya bersama Salma.
           
Salma yang selalu berprasangka buruk. Salma yang mudah terpancing. Salma yang bermulut runcing. Dan Salma-salma bertabiat buruk lainnya mengisi kepala Mustafa. Yang kemudian menjadikan dirinya benar-benar meninggalkan perempuan itu. Ia menjalin hubungan bersama Riana. Pergi berbulan-bulan lamanya. Mengabaikan istrinya. Demi perasaan hatinya yang ingin terbebas, tetapi sebenarnya menuju hulu derita lainnya.

***

Begitulah kisah buku ini menggulirkan prahara sebuah keluarga di masa-masak pelik negeri, di masa ketika pemberontak merajalela, pembunuhan di mana-mana, dan kabar kematian banyak orang yang kelewat biasa didengar. Sebenarnya, novel ini adalah gubahan si narator atas catatan-catatan Mustafa dan penuturan teman dekat lelaki itu atas kisah malang hidupnya dalam membina keluarga. Pendek kata, novel ini adalah penulisan ulang dari novel yang ditulis oleh Mustafa dengan judul yang sama. Persinggungan si narator dengan kehidupan Mustafa bukan pula disengaja. Awalnya si narator hanya berkunjung di kota Lamlhok, ia mampir di salah satu kedai, kemudian bertemu salah seorang teman Mustafa, dan mendengar perihal lelaki yang gemar menulis novel itu. Dari situ, timbul rasa penasaran atas kehidupan Mustafa, yang juga turut menyeret si narator dalam polemik kisah di buku ini. Ia masuk ke dalam cerita. Menelusuri jejak novel yang ditulis Mustafa sekaligus mengantarkanya kepada si jelita itu, Riana. Kelak keduanya menjalin hubungan rumit di samping kisah Mustafa dan Salma.
           
Pertanyaannya kemudian, di mana Tempat Paling Sunyi itu? Awalnya, judul itu dipakai untuk novel buah karya Mustafa, novel yang merepresentasikan kehidupannya. Tempat Paling Sunyi, dalam hidup Mustafa adalah keadaannya yang sering teralienasi dalam rumah tangganya sendiri. Di sini terlihat praktik yang bertendensi matriarki mengemuka dalam rumah tangga Mustafa. Dominasi istrinya, Salma, menjadi kentara dan menuntut Mustafa untuk lebih sering mengalah. Jauh sebelum adanya pertengkaran sengit, Mustafa kedapatan memilih mengalah ketika berdebat dengan istrinya. Dominasi ini pun kian diperkuat dengan figur mertua Mustafa. Keterlibatan Syarifah dalam persoalan keluarganya, semakin menegaskan kedudukan lelaki itu yang tak memiliki pegangan apa-apa. Di samping itu, sunyi di sini adalah penderitaan Mustafa dalam upayanya membina keluarga yang ia rasa gagal. Ia menginginkan perceraian, tetapi juga sukar ia realisasikan tersebab kondisinya sungguh tak memungkinkan. Gengsi masih menguasai sebagian diri Mustafa. Ia mengerti, dengan menceraikan Salma, sama saja sebagai bentuk legitimasi atas ketidakberdayaannya membina keluarga. Hal tersebut ia takutkan menebalkan citra buruk atas dirinya. Masyarakat akan menganggapnya sebagai lelaki yang gagal. Dan bukan tidak mungkin, menjalin keluarga baru adalah satu dari ketidakmungkinan dalam hidupnya.
           
Tempat Paling Sunyi pula dimiliki ketiga tokoh utama lainnya, yakni Riana, Salma, dan si narator. Dalam hidup Riana, hal tersebut direpresentasikan lewat satu bagian hidupnya ketika menjalin hubungan bersama Mustafa. Adalah di kala ia mesti merelakan Mustafa pulang ke pelukan Salma, sementara ia tak bisa mencegah secara langsung tindakan tersebut. Tempat Paling Sunyi bagi Riana ialah bentuk cintanya pada lelaki itu. Ia rela bersakit-sakit dan menelan air mata sendiri, tanpa memiliki kuasa untuk menunjukkan penderitaannya tersebut.

Sementara itu, di kehidupan Salma, Tempat Paling Sunyi ialah tatkala ia hidup sendiri tanpa Mustafa di sisinya dalam jangka waktu yang tak sebentar. Ia menjalani kehidupan seorang diri selepas kepergian suaminya di suatu masa. Hal demikian kiranya menjadi sisi terberat hidupnya. Sebab ia mesti menelan pil pahit atas ketidakmampuan dirinya mencegah Mustafa pergi. Dan fakta bahwa di suatu masa, hidup bersamanya bagi seorang Mustafa, adalah palung neraka yang menerakan derita tak terperi.
           
Benar adanya tiap orang memiliki Tempat Paling Sunyi-nya masing-masing, begitulah yang diyakini si narator kita. Serupa dengan tiga tokoh sebelumnya, si narator ini pula terjerat dalam jaring laba-laba berisi kesunyian dan sakit hati. Adalah di satu masa, tatkala persinggungannya semakin dalam dengan salah satu tokoh kita, Riana, kenyataan menempatkanya dalam ruang berduri itu.

***
Benar, membaca buku ini seperti tamasya dalam mengikuti Tempat Paling Sunyi tokoh-tokohnya. Ada pembenturan seberagam watak manusia di dalamnya. Kesalahpahaman. Perkara kecil yang dibesar-besarkan. Betapa cinta meluluhlantakkan segalanya. Dan rekaman kecil dari sebuah kisah di masa-masa sulit sebuah negeri—ingat, latar kisah ini di masa pemberontakkan GAM. Di samping itu, novel ini pula tak lepas dari manisnya sebuah cinta. Sebab di samping pendedahan perkara yang pedih, terdapat juga sisi manis yang membuat bibir menyungging senyum. Betapapun hal tersebut acap tertutupi, tapi tak dinyana, hal demikian tak membuat kita jengah atas melulunya persoalan pelik yang disodorkan. Ia hadir serupa tone cerita untuk memancing pembaca berpikir, “Beginilah hidup, tak seluruhnya kita berhadapan dengan penderitaan.”

Novel ini menjadi penting untuk dibaca. Sebab selain hal-hal yang sudah terjelaskan sebelumnya, di dalam kisah ini pula seseorang bisa belajar sedikit mengenai hakikat membina keluarga. Novel ini hadir seperti sentilan atas realita di masyarakat dalam membina keluarga, atas perkara-perkara yang sebetulnya tak usah diperkarakan, pentingnya nilai kepercayaan, sikap menarik ego, dan betapa hidup berkeluarga harus dimulai dari pengenalan satu sama lain yang intens, yang clear, sehingga bila di kemudian hari terdapat kesalahpahaman, ia bisa diperbaiki sebab sebuah pasangan sudah mengenal dengan baik, kemudian tahu bagaimana untuk mendamaikannya.

Namun demikian, seperti halnya buku-buku lain yang tak sempurna, novel ini memiliki kelemahan di bagian narasi yang di beberapa tempat diulang-ulang. Sungguh perulangan yang tak diperlukan. Ia menjadikan cerita yang kurang padat. Terdapat pula salah ketik di beberapa kalimat, yang kendati sepele, hal tersebut tentu menganggu.

Dan di atas itu semua, menyelesaikan novel ini turut membangkitkan satu pertanyaan di dalam benak. Sesungguhnya, tiap orang memiliki Tempat Paling Sunyi-nya sendiri, bukan?


Tentang Buku:


Judul               : Tempat Paling Sunyi
Penulis             : Arafat Nur
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978602031742
Tebal               : 327 Halaman
Share:

Saturday, January 11, 2020

Kaum Marjinal di Novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman



Judul               : Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman
Penulis            : A. Mustafa
Penerbit           : Shira Media
Tebal               : 358 Halaman
Tahun Terbit   : Cetakan pertama, 2019

Dibuka dengan narasi apik perihal Mbok Wilis di pertengahan tahun 1994 yang gerah hendak menemui nabi, kisah pun seketika berpindah ke masa dan bagian hidup Mbok Wilis yang didedah bagian per bagian, maju-mundur bersanding dengan epos mahabharata dan hikayat babi, pun menyandingkan seksualitas yang kental dengan teologi agama yang melimpah, maka tak berlebihan bila kau terpukau dengan buku ini.

Dalam jalinan alur maju-mundur, terdapat dua tokoh utama, yakni Rara Wilis atau Mbok Wilis dan Pak Wo atau Suko Djatmoko. Kisah keduanya dituturkan secara bergantian, dengan sesekali berbagi tempat dengan cerita wayang mahabharata dan hikayat babi. Rara Wilis adalah seorang waria yang melacurkan diri, ia cukup memiliki nama besar di daerah  Semarang, dan dikenal sebagai pengurus Peguyuban Waria Tri Lomba Juang (PAWATRI), sebuah organisasi waria dan LGBT pertama di kota tersebut. Dalam pekerjaannya sebagai PSK, atau yang dikenal dengan Nyebong, ia memiliki reputasi teratas di antara seberagam PKS serupa dirinya. Ia disegani, sekaligus tak disukai, sebab ia acap lebih laku dan memiliki pelanggan setia berkantong tebal. Hal tersebut membuat hidupnya terbilang makmur, sehingga tak mengherankan, ia memiliki banyak peliharaan atau berondong yang dikenal dengan kucing, serta banyak pacar yang bahkan mempunyai jadwal kencannya masing-masing. Hal demikian barangkali membuat hidupnya bakal sejahtera, kalau ia tidak  bersinggungan dengan hal paling berbahaya: Cinta. Adalah cinta pula yang mengantarkan dan memantapkan hatinya menjadi PSK. Tak berbilang sedikit bagi Rara Wilis bersinggungan dengan cinta, tapi sialnya, selalu saja berujung nestapa baginya. Hingga pada akhirnya, cinta dianggapnya racun yang tak baik baginya, dan ia bertekad untuk tidak sama sekali melibatkan perasaaan tersebut di dalam hidupnya.

Dalam panggung lain, tergelar kisah Pak Wo, seorang penjual jamu keliling yang juga seorang jamaah Ahmadiyah. Ia seorang Ahmadiyah yang taat, ia tak beristri dan beranak, sehingga banyak waktunya ia habis berjualan, khususnya di daerah masjid Nusrat Jahan. Ia memiliki pelanggan setia di sana, mubalig masjid tersebut beserta istrinya. Menjadi penjual jamu jelas membuat hidupnya tak selalu tercukupi, terlebih lagi pamor jamu yang kian merosot, dan ditambah, sentimen masyarakat sekitar atas dirinya yang seorang Ahmadiyah. Ia dianggap sesat, penyebar dan pengikut aliran ngawur, sehingga banyak yang tak menyukainya, bahkan ingin sekali mengusir Pak Wo dari desa tersebut. Namun, ia terlampau teguh hatinya, kendati mendapat perlakuan demikian, ia tetap pada jalannya dan tak gentar mensyiarkan perihal kabar tentang akhir zaman beserta seluk-beluk lain soal Ahmadiyah kepada siapa pun yang ingin tahu lebih jauh.

Kendati berlatar tahun sembilan puluh ke bawah, ada banyak hal yang didedah dalam buku ini dan masih relevan dengan masa kini. Dari kisah keduanya, dapat ditarik satu benang merah utama, yakni kaum atau mereka yang sampai saat ini dimarginalkan dari masyarakat. Perihal LGBT terkhusus waria dan gay serta pengikut Ahmadiyah, acap ditemukan dipandang dengan stigma negatif. Mereka dilihat sebagai orang-orang yang tak sehat, terganggu jiwanya, dan teralienisi dalam lingkup masyarakat. Keberadaan mereka dianggap racun yang dapat memberi imbas buruk terhadap lingkungan sekitar, dibenci dan dihujati, bahkan tak jarang disuruh angkat kaki.

Atas hal tersebut, novel ini di banyak bagian mengandung maksud perlawanan dan berusaha menunjukkan poin-poin yang justru meletakkan masalah paling utama adalah pandangan masyarakat sekitar. Dalam kasus Pak Wo, masyarakat terkadung percaya oleh siaran kabar yang menyatakan lelaki tersebut pengikut aliran sesat dan mesti dijauhi, yang malah memperlihatkan sebagai kegiatan dengan pretensi tertentu; sesuatu yang tak berdasar dan hanya berpegang pada hal/ihwal “katanya”. Relevansinya, masyarakat seperti itu, dewasa ini masih tersebar di banyak tempat. Mereka telanjur meyakini apa yang dianut Pak Wo sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama. Mereka pun selalu bersilat lidah menolak manakala diajak atau ditawarkan untuk ber-tabbayun. Sentimen tersebut kian menguat, ketika anggota keluarga sendiri yang menggecarkannya. Adalah kakak Pak Wo sendiri yang menyatakan dirinya memusuhi Ahmadiyah. Ia bahkan tak melihat sesuatu yang lebih mulia, yakni orang tau mereka yang menerima Pak Wo apa adanya, bahkan si ibu yang pada akhirnya turut menjadi Ahmadiyah.

Sementara itu, usaha yang bertendensi serupa tetapi berdasar dan berlatar belakang tak sama, ditunjukkan oleh Rara Wilis. Dalam tahun-tahun hidupnya sebagai waria sekaligus PSK, pula pengurus organisasi, dan sosok yang dipandang pemimpin oleh teman-teman seprofesinya, ia tak hanya mengabdikan dirinya pada nikmat bersetubuh dan gelimang uang. Berkendara organisasi tersebut, Rara Wilis mengadakan usaha untuk masuk dan berdamai dengan masyarakat. Lewat pagelaran hiburan dan lomba-lomba di tiap tanggal Kemerdekaan, ia bersama teman-temannya membaurkan diri. Acara tersebut tentu mendapat sambutan, masyarakat sekitar terundang, dan larut dalam kecerian acara. Namun, usahanya tak melulu membuahkan hasil, sebab ada malam yang hampir merenggut nyawa Rara Wilis; ia dijebak oleh segerombolan pemuda yang hendak membunuhnya atas dalih ia sundal-celaka-penghuni-neraka.

Esensi novel ini tak hanya menyentil kondisi masyarakat dalam memandang kaum atau kelompok yang kadung distigmakan negatif. Lebih dari itu, nilai teologi agama yang berkelindan di tubuh Ahamdiyah, turut didedah, dengan menunjukkan bahwa epos mahabharata sesungguhnya menceritakan banyak bagian dalam agama Islam; perihal nabi-nabinya, akhir zaman, dan kedatangan Isa Al-masih dan Imam Mahdi. Sisi ketuhanannya pula, ialah pertemuan kedua tokoh di halaman menuju akhir kisah, bahwa mukjizat coba diperlihatkan wujudnya lewat perubahan-perubahan tokoh-tokohnya; perihal jati diri Pak Wo dan sejarah hidup Rara Wilis dari bayi hingga berakhir menjadi waria yang menjajakan tubuhnya.

Dan soal hikayat babi, ia adalah alegori dari kehidupan Rara Wilis. Sebermula dari kubangan lumpur yang membuat nyaman si babi, kedatangan hewan lain, munculnya pemangsa dan berbuah dimangsanya si babi, kembalinya si babi dari perut pemangsa, menjadi bulan-bulanan babi lain, hingga sekaratnya si babi dan memunculkan sosok serupa manusia dari dalam dirinya, adalah transformasi dan representasi kehidupan waria tersebut.
           
Sebagai Bildungroman, kisah Rara Wilis bukan sekadar cerita pencarian jati diri belaka, lewat tokoh Harris yang juga tokoh sentral, ada pergulatan banyak watak manusia dibentur-benturkan satu sama lain. Dalam jalinan hubungan tersebut, terdapat hal-hal yang sekilas membuat jatuh, tetapi tak jarang menjadi pemicu satu perubahan atau keajaiban tak terduga. Rara Wilis bermula dari kisah nyata, ia masih hidup, dengan jati diri terbaik yang berhasil ia jemput. Dan tak serupa novel autobiografi pada umumnya, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman mempunyai sisi lain yang langka, keunikannya tersendiri, semesta Rara Wilis yang berhasil di ranah fiksional, maka sulit kiranya meragukan keputusan yang menyatakan novel ini menjadi juara kedua Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2018. Bermuatan cerita yang tak bisa dianggap main-main, pengkrajinan merajut cerita yang membetahkan, penguasaan bahasa yang baik, dan teknik bercerita rileks serta berporsi pas, adalah beberapa poin novel ini yang tak bisa dianggap sebelah mata.  

Share:

Tuesday, November 26, 2019

Seberapa Jauh Kita Mengenal Bahasa Indonesia?

https://picsart.com/i/image-wdw-wdwedit-talk-listen-293334369051201


Hari ini, siapa, sih, yang tidak bisa berbahasa Indonesia? Saya rasa, bila seseorang minimal pernah mengenyam pendidikan dasar, tentulah ia memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. Apalagi sekarang ini, hampir di tiap kesempatan, tempat-tempat umum, bahasa Indonesia sudah sedemikian biasa digunakan. Para orang tua, bahkan sudah menanamkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka. Pendek kata, secara verba, bahasa Indonesia jamak didapati di mana-mana.

Akan tetapi, apakah pemahaman berbahasa Indonesia yang baik dan benar sudah dimiliki seluruh lapisan masyarakat kita? Pemahaman yang, tak sekadar verba atau lisan, tetapi juga menyangkut kaidah penulisannya. Mungkin, sebagian pembaca akan menjawab ‘ya’. Namun, saya kira, lebih banyak akan yang menjawab ‘tidak’.  Sebab, memang begitulah adanya kenyataan di sekitar kita. Kesalahan-kesalahan baik penggunaan diksi yang kurang tepat, maupun penulisan kata, frasa, atau kalimat yang tak sesuai kaidah berbahasa Indonesia, beterbaran di sekiling kita. Baik tertempel di dinding toilet, pagar tembok, plang nama, bahkan merambah ke ranah yang tak terpisahkan dari kehidupan kita; pesan singkat dan status media sosial.

Dari pertanyaan di atas, kemudian timbul satu pertanyaan dasar: Mengapa itu bisa terjadi? Baiklah, di sini saya memiliki tiga jawaban yang saya kira melatarbelakangi masalah tersebut.

Alasan pertama, adalah merasa bahwa memakai bahasa Indonesia terkhusus dalam penulisannya yang sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar, itu tidak terlalu penting atau perlu. Siapa sih, yang akan mempermasalahkan kalau berkirim pesan memakai kata yang disingkat-singkat, atau ketika berbicara menggunakan diksi yang kurang tepat akan dipermasalahkan oleh lawan bicara kita, yang terpenting, kan, maksud dan tujuan yang tersampaikan, kira-kira begitulah pikiran orang yang masuk ke dalam alasan pertama tersebut.

Alasan kedua, adalah ketidaktahuan. Tentu tidak semua orang tahu dan mengerti kaidah berbahasa yang baik dan benar menurut Pedoman Umum  Ejaan Berbahasa Indonesia, pun apa-apa saja diksi yang tepat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Untuk alasan kedua ini, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Sebab ketidaktahuan memiliki banyak faktor yang menyebabkannya. Bisa saja orang tersebut jarang membaca, sekolahnya terputus di tengah jalan, atau tinggal di tempat terpencil yang penguasaan berbahasa Indonesia-nya minim.

Alasan ketiga, sekaligus yang paling fatal, adalah ketidakpedulian. Alasan ini jelas saja berhubungan dengan kedua alasan sebelumnya. Dari merasa tak perlu-perlu sekali, muncul rasa tidak peduli atas aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari rasa tidak tahu, juga bisa memunculkan ketidakpedulian untuk memperbaiki atau menggali bagaimana kasalahan-kesalahan tersebut diperbaiki. Pun, saya kira, alasan inilah yang paling banyak menjadi dasar atas kesalahan-kesalahan berbahasa yang terjadi di sekitar kita.

Jangankan memedulikan mana yang benar antara ‘jomblo’ dan ‘jomlo’, sementara yang sudah amat akrab diucapkan adalah kata yang pertama. Yang paling menggemaskan, penggunaan partikel ‘di’ disambung dan dipisah pun masih banyak sekali yang belum paham. Padahal, saya kira, aturan tersebut dasar sekali. Sebagaima tujuan adanya aturan dalam berbahasa, bila dilanggar, tentu saja menghasilkan arti yang tak tepat, atau paling tidak membuat tak nyaman orang yang mengerti manakala mendapatinya di satu tempat atau di satu kesempatan.

Benar kalau di kehidupan sehari-hari, aturan-aturan tersebut tidak terlalu memengaruhi. Seperti yang terjadi pada alasan pertama, dalam hal berkomunikasi, asal yang menjadi lawan bicara atau berkirim pesan paham, maka kesalahan-kesalahan itu tak penting adanya. Dan memang, kepedulian atas kesalahan-kesalahan tersebut, jamaknya diperhatikan dalam ruang lingkup akademisi atau formal; kampus, sekolah, lembaga-lembaga, dan instansi pemerintahan serta perusahan.

Akan tetapi, bukankah akan indah sekali manakala kita berbahasa Indonesia, terkhusus dalam penulisannya, dengan memperhatikan aturan-aturan yang berlaku? Bahasa ini milik kita, sudah sepatutnya kita merawat dengan memperdalam ilmu berbahasa yang baik dan benar, lantas mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari.     

Share:

Tidak Ada Pembaca Buku di Perpustakaan Kami

https://picsart.com/i/image-309398786124201


Ya, silakan menghujat saya selagi ini masih di paragraf awal. Tidak apa-apa. Saya paham benar, kalau judul di atas bakal memancing hujatan untuk saya. Lho, mana ada tidak ada pembaca buku di perpustakaan? Sampeyan ngawur, ya?! Saya kira, kurang lebih, begitulah kata-kata yang dilayangkan pembaca tulisan ini.

Saya tidak akan marah. Akan tetapi, izinkanlah saya meluruskan dan menjelaskan duduk perkara dan maksud dari judul tersebut. Begini, jelas bukan tanpa alasan judul di atas saya ambil. Sebab, asal tahu saja, saat ini, saya memiliki kewajiban kepada perpustakaan universitas XYZ—karena saya mahasiswa penerima bidikmisi, sehingga, hampir tiap hari saya berada di sana manakala saya memiliki jam kosong dan tidak ada kegiatan apa-apa. Selama menjadi pustakawan—ah, sebenarnya label itu masih belum bisa saya sandang, mau tidak mau saya terbiasa memerhatikan suasana perpustakaan, sampai perihal pengunjung dan apa saja yang mereka lakukan di sana. Dan saya tidak bisa untuk tidak merasa gemas akan beberapa hal yang saya dapati. Berangkat dari hal tersebut, judul itulah yang saya pilih.

Dari pengamatan saya, ada beberapa tipe pengunjung perpustakaan yang saban hari menyambangi perpustakaan kami. Tipe pertama, adalah mereka yang datang dengan tujuan paling umum, yakni mengerjakan tugas. Tipe kedua, adalah mereka yang datang sekadar berkumpul, mengobrol, dan ber-haha-hihi. Tipe ketiga, yang terakhir sekaligus yang membuat gemas, adalah mereka yang datang untuk bersantai, menikmati dingin AC, bahkan bermain game online. Nah, ada yang janggal, bukan? Benar sekali, tidak ada tipe yang lazimnya jamak kita dapati di sebuah perpustakaan: Pembaca buku.

Bukanya sama sekali tidak ada yang membaca buku, hanya saja, keberadaan mereka, amat jarang saya dapatkan menempati satu kursi dengan wajah damai dalam petualangan imajinasi. Sebenarnya, saya tak terlalu yakin, hal ini sebuah masalah atau bukan. Sebab, sebagaimana segenap aspek kehidupan kita yang banyak berubah satu dekade ini, dan teknologi saat ini menjadikan tipikal manusia yang sama sekali lain dari zaman orang tua saya dahulu. Pun saya barangkali salah, pengamatan saya terlalu dangkal, atas sebuah gaya hidup di sebuah perpustakaan di zaman modern ini yang tak hanya diisi oleh pembaca buku. Itu mungkin bisa dibenarkan, dan apa yang saya dapati adalah hal yang wajar di zaman ini. Perpustakaan saat ini, melewati makna namanya sebagai pustaka atau gudang ilmu dengan buku sebagai ujung tombaknya.

Yah, tentu saja saya menyadari hal tersebut, dan saya toh tak bisa menyalahkaan siapa-siapa. Kesadaran akan betapa pentingnya mengangkat martabat sebuah perpustakaan saya rasa mesti disadari oleh masing-masing individu. Perpustakaan kami bukannya tak memiliki aturan, atau tidak ada larangan-larang. Namun, sampai ke tingkat melarang seseorang berkumpul, ber-haha-hihi, atau bermain game online, saat ini memang belum diberlakukan. Imbauan untuk tak berisik tentu saja bisa menjadi penguat manakala saya menegur seseorang atau kelompok dengan dua kasus pertama. Akan tetapi, bila sampai menegur mereka yang melakukan kasus ketiga, mental saya menjadi ciut. Benar memang mereka merusak pemandangan di dalam perpustakaan, berkumpul di sudut dengan pandangan penuh ke layar ponsel. Tetapi, hei, mereka diam semua. Mereka seolah menempati gelembung mereka masing-masing. Saya tak sampai hati menegur mereka. Memang saya siapa? Apa kewenangan saya?

Atas semua hal tersebut, saya kerap merindukan perpustakaan yang memiliki suasana tenang dengan para pengunjungnya yang memiliki adab memperlakukan perpustakaan dengan baik, dan mereka yang menyelami sebuah buku menjadi jamak didapati. Aneh, padahal perpustakaan kami cukup banyak memiliki koleksi buku-buku sastra yang melimpah, mengingat universitas yang menaungi memiliki program studi Sastra Inggris. Tak tanggung-tanggung empat rak besar yang dipenuhi  buku-buku sastra klasik dan kontemporer dari pengarang-pengarang hebat. Akan tetapi, tiap kali saya menengok mereka dari rak satu ke rak lainnya, tingkat satu ke tingkat lainnya, buku ke buku, hati saya tidak bisa untuk tidak merasa miris. Sebab mereka ada yang berdebu, plastik pembukusnya lengket satu sama lain, dan ketika melihat riwayat peminjaman di halaman belakang, yang didapati adalah mereka dipinjam dua, tiga, atau bahkan empat tahun yang lalu!

Saya tidak bisa membayangkan, betapa sedihnya Leo Toelstoy, Edgar Allan Poe, Jane Austen, Franz Kafka, Ernest Hemingway, dan segenap penulis lainnya ketika menyaksikan karya mereka seperti dianggap barang usang dari masa lalu. Tidak menarik. Kalah dengan kilau teknologi yang lebih berwarna.

Apakah ini karena krisis literasi yang sampai sekarang masih menjerat sebagian besar masyarakat kita? Adalah ketika apa yang terpampang di dunia maya lebih menarik ketimbang membalik halaman demi halaman sebuah buku. Perpustakaan kami, sekarang ini bukan lagi diisi mereka-mereka yang hendak menyelami sebuah kisah atau berdiskusi tentang ilmu (sungguh, itu jarang sekali), lebih dari itu, suasana tersebut seperti jauh tertinggal di belakang. Perpustakaan kami seperti kehilangan jati dirinya. Mungkin, karenanya, mereka yang hendak melakukan ibadah membaca buku, merasa perpustakaan kami bukan lagi tempat yang ideal. Bukan lagi tempat yang tenang dan senyap.  

Share:

Saturday, September 21, 2019

Gue, Maba, dan Hal-hal Tak Penting Lainnya



Sebelum membaca lebih jauh, gue peringatin kalau apa yang tertulis di sini sungguh berpotensi membuat lo bosan, nguap berkali-kali, bahkan memaki betapa enggak pentingnya tulisan ini.

Nah, tapi kok ya tetap dibaca, loh. Udah, sana-sana. Jauh-jauh. Tinggalin blog ini. Pergilah ke ranah IG, Facebook, Twitter, atau ke manalah, yang jelas-jelas punya faedah buat hidup lo. Eh, masih ngeyel baca? Udah, deh. Tulisan ini sungguh enggak penting, enggak berguna, enggak ada tuh kata-kata motivasi apalah-apalah, gue bukan Jack Ma, ya, Sis dan Agan sekalian. Jadi, jangan masang ekspektasi tinggi atas tulisan ini.

Herannya, masih aja ada yang baca sampai sini. Kok, kayaknya lo penasaran banget, sih! Heh, gue bukan Raditya Dika, ya. Enggak ada tuh tulisan gue bikin lo ketawa. Jadi, sebelum waktu beberapa menit lo terbuang sia-sia, tinggalin deh blog ini. Pergi ke mana, kek. Stalking kating apa nge-WA-in teman seangkatan yang cakep, kek. Nggosipin kucing bunting punya tetangga lo, kek. Atau ke manalah. Terserah.

Bener-bener, dah. Kayaknya emang penasaran berat, nih. Sampai sini masih dibaca coba!

Oke, oke, saudara senenek moyang Homo Sapiens yang suka pusing ketika tanggal tua sekalian, karena lo masih mantengin tulisan ini, dengan rasa hormat setinggi tower Telkom, gue ucapkan terima kasih. Terima kasih atas kesedian lo buat mampir ke blog yang sempet mati suri ini. Terima kasih telah menjadi tamu terhormat di rumah bagi kediaman tulisan-tulisan gue ini! Terima kasih. Terima kasih. Makaseeehhh! XD

Baiklah, dengan disaksikan debu jalanan di atas tanah gersang dalam kemarau berkepanjangan ini, gue ucapkan selamat datang buat lo di tempat yang sedikit menggambarkan dunia yang baru gue jejaki, datangi, dan yang ke depannya menjadi ranah petualangan, mata air pengalaman, serta dimensi yang mempertemukan gue dengan banyak hal baru yang sama sekali enggak terbayangkan sebelumnya.

Perlu diketahui, tahun ini gue menjadi seorang Mahasiswa Baru. Yap, di umur yang menginjak sembilan belas tahun ini, gue baru menjejaki jenjang perguruan tinggi. For your information aja, jadi tuh gue Gap Year, gitu. Sebelumnya, gue sempet berniat memasuki dunia kerja pasca lulus dari SMK, gue juga sempet mempersiapkan diri dengan memperdalam kemampuan di bidang komputer dan bahasa Inggris di satu lembaga kursus untuk menajamkan kualitas diri supaya dapat bersaing di kerasnya dunia kerja. Akan tetapi, setelah melewati masa penggemblengan selama kurang-lebih empat bulan tersebut, dan kepercayaan bahwa diri gue sudah cukup mumfuni dan memiliki kecakapan, huh, ternyata gue masih dikalahkan oleh kerasnya dunia ini, Saudara-saudara. Sungguh, diri ini masihlah tidak ada apa-apanya. Penolakan demi penolakan, mampir lewat telepon yang mengabarkan kabar horror, kalau gue … ditolak!

Sejak itu, gue sempat frustrasi akan kemampuan diri gue. Betapa lemahnya diri ini, membuat gue enggak percaya diri. Beberapa bulan gue menjadi manusia yang menutup diri dari dunia luar. Beberapa kali gue pernah mikir buat mati, bunuh diri, bahkan mempraktikkan self harm dengan mukul-mukul kepala sendiri ketika tiba gue depresi akut dan merasa hidup ini enggak ada gunanya. Gila, kan? Ngeri, kan? Akan tetapi, di suatu kali, gue teringat akan mimpi-mimpi gue. Dan di puncaknya, hal tersebut menumbuhkan keyakinan, kalau hidup gue enggak berhenti sampai di sini, enggak berhenti cuma di kamar, doang. Bila tetep kayak gitu, mau jadi apa gue ke depannya?  Kalau terus-terusan berjibaku di dalam jurang keputus-asaan, mana mungkin gue dapat membanggakan orang tua? Akhir, bak cerahnya sang surya yang tersenyum di kala fajar, terbit pemikiran-pemikiran kalau harapan untuk berubah, itu masih terbentang lebar. Perjalanan gue sebagai manusia belum berakhir. Gue masih punya kesempatan untuk membelokkan arah nasib. dan mengubahnya ke arah yang lebih baik.

Gue Memilih Sastra Inggris

“Wahid, kamu punya mimpi jadi apa?” tanya mentor gue kala masih di lembaga kursus itu ketika kami terdampar di satu acara motivasi.

“Penulis, Sir!” jawab gue lantang.

Itu sedikit cuplikan yang gue alami ketika masih di proses penggemblengan diri. Hmm, gini-gini, jadi tuh kendati gue masuk ke lembaga itu untuk mempersiapkan diri supaya dapat bersaing di dunia kerja, perihal mimpi-mimpi ke depan enggak dibatasi, di acara tersebut kami bebas menuliskan impian dan keinginan apa pun yang ingin dicapai, kemudian membuat daftar step-step untuk menggapainya. Dan seorang penulis, adalah satu-satunya impian yang terbersit di dalam otak gue. Yup, kesukaan gue membaca karya sastra, lama-kelamaan menumbuhkan keinginan untuk turut serta menjadi seorang pengarang atau penulis. Tetapi, saat itu, prioritas gue tetap gimana caranya bisa dapet kerjaan, udah. Jadi, impian tersebut sementara gue sisihkan ke sudut lain, gue abaikan sampai kelak bakal dilirik lagi bila waktu menghadirkan rencananya yang tak terduga.

Kemudian, memang benar adanya. Seperti yang gue bilang sebelumnya, impian tersebut menghinggapi gue ketika diri ini masih berjuang dalam kejamnya perasaan frustrasi yang menggerogoti tubuh. Teeng’ Impian untuk menjadi penulis, muncul di benak dengan kuatnya, amat menggebu-gebu. Dan hal itu, dipantik lagi ketika gue jatuh cinta dengan tokoh Amba di novelnya Laksmi Pamuntjak yang berjudul sama: Amba. Sedikit tentang wanita hebat tersebut, ia adalah seorang penerjemah lulusan Sastra Inggris UGM tahun ’60-an. Gue bener-bener jatuh cinta sama dia. Tentang dirinya. Petualangannya. Bagaimana ia menempuh pendidikannya. Membuat gue yakin, kalau gue harus jadi seperti dia. Atau minimal, gue harus mengikuti jalannya di bidang tersebut. Alhasil, gue jadi memantapkan diri, di tahun 2019 ini, gue harus kuliah, dan jurusan yang gue ambil adalah Sastra Inggris.

Enggak sampai di situ, selanjutnya, gue mulai tertarik di dunia edit-mengedit. Pengalaman membantu mengedit cerita temen ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Ditambah lagi, gue pernah sekali membantu salah satu penerbitan indie buat mengeditori satu naskah novel. Berat memang. Kudu teliti. Bahkan di beberapa waktu, gue sempet tinggalin dan enggak disentuh. Tetapi, lagi-lagi, pengalaman itu memiliki keasyikan yang enggak kalah sama proses menulis. Lebih dari itu, menjadi editor dituntut lebih peka, tajam menginterpretasikan satu adegan, sabar, dan di punggungnya terpikul tanggung jawab untuk menjadikan naskah tersebut layak diterima pembaca. Dan kelak, kalau gue ingin menempuh jalur itu, salah satu syaratnya adalah menjadi orang dengan latar belakang lulusan Sastra.

Hmm, dari ketiga pemantik itu, cukuplah bagi gue dijadiin alasan kenapa gue memilih jurusan ini.

Kenapa di Universitas Teknokrat Indonesia?

Sebab setahu gue, di Lampung, kampus yang memiliki prodi Sastra Inggris, ya universitas ini. Gue juga punya temen yang dulu seangkatan yang lebih dulu masuk sini. Yah, tahulah, faktor supaya ada temennya itu sungguh-sungguh memengaruhi seseorang apabila ia ingin masuk ke satu dunia yang sama sekali baru, intinya, biar enggak dungu-dungu amat kayak orang ilang yang bingung enggak punya temen. (Anjir, ini gue ngomong apa, sih?)

Udah, langsung alasan berikutnya. Dan itu adalah, karena universitas ini menyediakan jalur Bidikmisi yang kalau tembus, Masya Allah, Akhi-Ukhti sekalian, sungguh-sungguhlah menggiurkan bagi kantong kaum jelata nan misquen ini. XD.

Alhamdulillah-nya, gue yang jadi salah satu orang beruntung, sebab tiket bidikmisi tersebut jatuh ke tangan … gue! Masya Allah ….

Ini Foto Bersama anak-anak Bidikmisi 2019. Gue yang kedua dari kanan, cowok paling pendek itu.

Enggak sampai di situ, Saudaraku setanah air yang suka ngamuk kalau kuota habis sekalian, sebab di universitas ini, gue dipertemukan kembali dengan dua orang temen terbaik yang sempet terpisah di bangku menengah atas soalnya kami beda sekolah. Takdir itu terkadang punya selera humor yang tinggi, ya. Ini, loh, kami dipertemukan di tempat yang sama, dengan kondisi yang sama-sama, pula (baca: Gap Year).

Masya Allah ….

Formasi aslinya empat orang, but, satunya lagi melancong ke Jogja.


Tentang Acara Propti

Gila, lo masih betah baca tulisan ini? Emang penting, gitu? Enggak, kan? Udah, sana-sana. Udahan aja.

Lah, masih ngeyel. Ya udah, gue lanjutin, deh.

Jadi, propti ini akronim dari Program Orientasi Pendidikan Tinggi (catet! Kali aja ada yang enggak tahu). Kebetulan, gue kebagian gelombang kedua, sebab beberapa bulan silam Universitas Teknokrat Indonesia udah lebih dulu menggelar acara serupa.

Acara ini digelar selama tiga hari, 19-21 September 2019. Dilangsungkan di gedung GSG universitas tercinta, dengan semilir angin dari kipas yang sialnya enggak menyeluruh menjangkau tubuh-tubuh yang mengenaskan dililit gerah dan rasa panas. Auto kipas-kipas sendiri ….

Mau tahu apa perasaan gue ketika dipertemukan sama Maba lainnya?

Jawabannya adalah, minder. Yup, penyakit sialan yang sejak dulu menjakiti diri gue di tempat dan suasana baru. Asli, jujur, gue ngerasain ini. Ya, mungkin ini bagian dari berlebihannya mindset kalau gue berada di bawah mereka. Baik dari segi penampilan dan isi otak. Kendati gue siswa Bidikmisi, yang tentu saja semua orang sepakat, kalau orang-orang seperti kami ini bukan orang sembarangan, tapi hal itu tetep enggak membendung diri gue untuk enggak merasa minder.

Menjadi Peserta Terbaik Propti Mahasiswa Baru

See? Yak, gue ya ono, noh.

Ini sama sekali awkward. Apa yang spesial dari diri gue? Kenapa gue terpilih dari seribu lebih peserta lainnya? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaa?

Gini, lo tahu enggak, acara propti yang tiga hari ini, utamanya adalah diisi dengan materi-materi yang disampaikan guna menggugah jiwa muda kami. Disampaikan oleh para pemateri yang setidaknya terdiri dari delapan narasumber yang sorry banget gue lupa siapa aja tetapi yang pasti ada Bapak ketua yayasan, Bapak Rektor, pihak dari BNN, pihak dari lembaga pendidikan di Lampung, serta perwakilan dari TNI. Selebihnya, gue lupa siapa-siapa aja. Dari mereka, banyak banget pesan dan informasi yang beliau-beliau paparkan. Misalnya, menyoal Literasi Baru, era revolusi 4.0, betapa pentingnya bela negara, tentang narkoba, dan beberapa hal penting lain yang sorry banget, sekali lagi gue lupa apa-apa aja. Dan, dari pemantik informasi dari beliau-beliau sekalian tersebut, kami dipersilakan untuk menanyakan seputar topik yang sedang dibicarakan. Banyak, dong dari kami yang getol nanya ini-itu. Bahkan acap kali sampai rebutan dan ada Maba yang malah enggak dapet kesempatan buat tanya. Duh, jadi kasiaan ….

Berangkat dari peran kami dengan mengutarakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, ternyata itu menjadi salah satu poin yang diperhitungkan untuk memilih siapa yang pantas menyandang siswa terbaik di propti ini. Jelas hal itu enggak semuanya kami ketahui. Dan gue, sebenarnya enggak memenuhi-memenuhi amat syarat tersebut. Heh, gue tanya itu kayaknya enggak lebih dari empat kali, loh. Gue lihat juga, ada beberapa tuh, yang itensitas tanyanya gencar banget, juga pertanyaannya yang jauh lebih berbobot.

Lalu, kok, gue yang kepilih?

Entahlah, mereka, para penyelenggara acara ini jelas yang tahu pasti jawabannya. Mungkin, ada bejibun aspek lain yang dilihat, yang sama sekali enggak kami ketahui apa itu.

Makanya, gue bener-bener enggak ngerti kenapa diri ini bisa terpilih. Sebelum pengumuman siapa siswa terbaik itu, beberapa jam ke belakang, gue memang dipanggil ke belakang, dibawa ke satu ruangan untuk menemui seorang dosen Sastra Inggris. Di situ, gue dikasih tahu untuk segera membuat teks pidato yang mewakili peserta putra atas kesan dan pesan terselenggaranya acara propti ini. What? Pidato? Gila, seumur-umur gue enggak pernah ngelakuin itu, Saudara-saudaraku sekalian. Pengalaman tampil di depan umum gue ketika sekolah dulu adalah menjadi pembaca doa di setiap upacara bendara di hari Senin. Sudah. Itu saja. Lebih gila lagi, gue disuruh bikin sendiri teksnya! Aiiiish, auto gupek gue. Lha gimana enggak bingung mau nulis apa, soalnya kendati gue suka nulis, tetapi gue terbiasa nulis fiksi, dan fiksinya tuh, ya, bener-bener fiksi. Contohnya ini. See? Perasaan enggak percaya diri pun makin kuat menghinggapi diri gue. Asli, gue enggak yakin sama diri sendiri.

Dan ketidakyakinan itu pun berbuah atas penampilan gue yang, yang, yang, (gue enggak sanggup ngomongnya), yang, mengecewakan. Teks yang gue tulis, enggak terbaca semua. Lebih parah, gue nyebut Bapak Rektor, padahal orangnya enggak ada. Lebih parah lagi, gue nyebut Universitas Indonesia! Alih-alih Universitas Teknokrat Indonesia! Gila, setelah turun dari podium, tulang gue rasanya meleleh, gue lemes, gue pengin keluar, gali tanah, terus ngubur diri sendiri karena saking malunya. Asli, gue enggak ada apa-apa dibanding perwakilan putri yang diwakilin sama salah satu temen Bidikmisi juga. Lha gimana enggak lebih baik? Dia pakai bahasa Inggris, ngomongnya lancar, tubuhnya enggak bergetar, enggak ada yang terlewat, dan mendapat tepuk tangan lebih meriah! Tamat sudah riwayat gue. Keringat bercucuran membasahi tubuh. Wajah merah padam. Kaki gemetar. Jantung rasanya anjlok ke lambung. Dan gue pengin nyemplung sumur.

Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, seharusnya gue patut bersyukur, dong. Gini, gini, dari sekian banyak Maba lainnya, yang terpilih adalah gue! Ini kesempatan yang bagus buat nunjukin personal branding gue, kan? Atau mungkin, Tuhan sedang menjalankan rencananya untuk kebaikan diri ini, sebab dengan terpanggilnya gue dan menyampaikan pidato di depan ribuan orang lainnya, gue jadi memiliki pengalaman dipermalukan. Dan hal itu dijadikan refleksi kalau ke depannya, gue enggak boleh mengulangi hal yang sama. Lebih dari itu, di kesempatan yang akan datang, gue harus lebih baik lagi, lagi, lagi, dan lagi. Gue harus mengatasi itu semua. Kekuarangan diri tersebut. Sampai, gue enggak lagi gemetaran, malu-maluin, mengecewakan, dan orang yang menyaksikan gue berbicara, akan bangga dan memandang kagum serta memberikan tepuk tangannya yang meriah.

Hari ini, acara propti itu sudah berakhir. Gue resmi menjadi mahasiswa, resmi memasuki dunia baru, dan gue dituntut untuk siap menghadapinya. Memang, gue tahu hari esok bakal lebih berat, tetapi bila hati penuh keyakinan dan diri ini mengerahkan segenap kemampuan untuk belajar, semuanya akan terlewati, bukan?

Ya ampun, lo baca sampai selesai tulisan ini? Heh, emang ada yang penting?

23. 45. WIB
Tanjung Bintang, 21 September 2019







Share:

Sunday, March 31, 2019

Kering

Hai, Melati. Matahari. Wahai, Pagi.
Kau tahu, aku kering. Kerontang datang makin sering. Rasa itu, seperti berpaling.
Aku kira benar, bahwa saat-saat terbaik yang dimiliki manusia adalah, ketika hati penuh bianglala, sisa hujan yang membuat dada kita basah, membasuh segala yang lalu, apa pun itu.
Dan kini, jangankan bianglala, mendung pun enggan datang. Sendang itu kering airnya.
Siklus itu mati. Terhenti.

31 Maret 2018
Share: