Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Wednesday, January 22, 2020

Catatan Bagi Karya yang Lebih Pantas Berakhir di Tong Sampah




Buku tersebut, saya kira, tak lebih seperti keripik singkong yang digoreng buru-buru, diangkat lekas-lekas,  kemudian dibungkus dengan plastik bening, dan dijual bersanding dengan camilan lebih mewah dan meriah lainnya.

Saya tak tahu, harus menampatkan catatan ini sebagai apa bagi buku saya itu—Gadis Penjual Air Mata. Barangkali, catatan ini bakal seperti kata pengantar atau hal lain. Pun mungkin, ia ada sebagai wujud pemakluman. Bisa jadi juga hanya sekadar catatan dari sebuah karya. Namun, yang pasti, catatan ini dibuat untuk membicarakan karya saya itu. Ia dibuat sebab saya berkeyakinan, saya harus membuatnya, sekalipun keberadaannya sungguh tak penting. Terlebih lagi, saya memaksudkannya serupa oase di tengah-tengah gurun kering sarat pertanyaan. Ia, saya harapkan, dapat menjadi pelepas dahaga atas pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di kepala para pembaca buku ini. Sekaligus, sebagai informasi tambahan bagi siapa pun yang penasaran akan buku saya itu.
           
Saya ingin sedikit bercerita. Buku itu, kalian tahu, adalah buah kerja keras saya selama setahun di tahun 2019. Yah, kendati setahun di sini bukan berarti saya mengerjakannya terus-terusan. Tidak, bukan begitu. Namun, yang saya maksud adalah, cerita-cerita yang terhimpun di dalamnya saya tulis dalam kurun waktu itu. Pendek kata, satu cerita paling tidak saya tulis dalam satu bulan. Meskipun tidak bisa dipukul rata demikian pula.
           
Sebelumnya, tidak pernah sekali pun saya merencanakannya untuk mengumpulkan menjadi satu buku. Sebab cerita-cerita di dalamnya, awalnya tak saya niatkan demikian. Saya membuat sekadar sebagai bentuk rasa gelisah atas hal-hal di sekitar saya. Meski saya juga tak menampik, kalau beberapa cerita dalamnya saya niatkan untuk termuat di media, yang tentu saja berakhir dengan kegagalan. Begitulah. Hingga di bulan Agustus di tahun itu, saya seperti memperoleh ilham untuk mempersatukan mereka di tempat yang sama, setelah ide tentang cerita utama—Gadis Penjual Air Mata—mencuat dari kepala saya. Kala itu adalah saat-saat saya menanti pengumuman beasiswa Bidikmisi saya, sehingga waktu luang cukup tergelar lumayan panjang. Di kala itulah, saya mesti menyelesaikan cerita utama itu, yang akhirnya selesai menembus 3000 kata lebih. Ia menjadi cerpen terpanjang yang pernah saya buat.
           
Seusai cerita itu selesai ditulis, saya membuat satu-dua cerita lagi, supaya jumlahnya genap sepuluh cerita. Dan seolah kesempatan baik benar-benar menggelimang di sekitar saya, di media sosial kala itu, saya mendapati satu informasi tentang terbit gratis yang diadakan oleh satu penerbit indie, yang maaf sekali, demi nama baik mereka saya tak menyebutnya di sini. Kesempatan itu tak bisa dilewatkan serta-merta, sebab dengan perasaan membuncah, saya mengirimkan naskah final tersebut kepada mereka. Beberapa hari kemudian saya dibuat berdebar menunggu pengumuman diterima atau tidaknya naskah saya. Seleksi jelas diberlakukan, dan oleh karenanya saya tak cukup yakin, naskah cerita itu layak untuk diterbitkan. Akan tetapi, pada akhirnya hal itu hanyalah ketakutan saya semata. Sebab mereka menerima naskah saya dan bersedia menerbitkannya secara gratis, yang sebenarnya sebuah pelayanan yang jarang diberikan penerbit indie secara cuma-cuma. Saya teramat senang, tentu saja. Saya, kalian tahu, langsung membayangkan proses penerbitan yang bakal berlangsung seru. Saya akan berkonsultasi dengan seorang editor sabar, naskah saya di-layout dengan apik sedemikian rupa, hingga ditanyai manakah kover yang sesuai dengan isi buku saya.
           
Namun sial sungguh tak teralakkan, nyatanya saya tak mendapat semua yang dibayangkan tadi. Naskah saya terbit tak sampai dua Minggu setelah pemberitahuan naskah itu bakal diterbitkan. Saya dibuat sedikit kecewa. Ini sungguh tak menyenangkan. Yah, kendatipun saya juga turut bahagia, sebab akhirnya saya memiliki buku solo saya sendiri. Atas fakta tersebut, saya mencoba melupakan kekecewaan itu. Saya mencoba tetap bahagia atas terbitnya buku saya. Teman-teman memberi selamat, itu makin menguatkan saya. Hingga, saya gencar mempromosikan buku tersebut. Ia, sebagaimana yang kalian tahu, adalah buah karya penulis tak dikenal dan diterbitkan oleh penerbit indie, sehingga jelas, keterlibatan sang penulis dalam penjualan amat wajib hukumnya demi mendongkrak terjualnya buku tersebut. Begitulah, saya melakukannya di semua akun sosial media saya. Saya membicarakanya di obrolan-obrolan bersama teman. Bahkan, saya mempromosikan ketika awal-awal kuliah dulu. Saya bilang sudah menerbitkan buku, kendati oleh penerbit indie. Sebagian dari mereka tentu saja kagum dan kaget. Sungguh, di mata awam, menerbitkan buku masih menjadi pencapaian yang luar biasa.
           
Akan tetapi, tidak dengan diri saya. Saat itu saya tak puas sama sekali. Tersebab harapan yang membayang di kepala saya banyak yang tak sesuai realita. Buku tersebut, saya kira, tak lebih seperti keripik singkong yang digoreng buru-buru, diangkat lekas-lekas,  kemudian dibungkus dengan plastik bening, dan dijual bersanding dengan camilan lebih mewah dan meriah lainnya. Atas hal tersebut, ditambah tak ada satu pun buku saya yang laku, sekejap itulah saya melupakannya. Beberapa saat saya tak menganggap buku itu ada. Saya tenggelam dalam kesibukan awal sebagai mahasiswa. Saya menjalani hari tanpa pikiran, “Apakah hari ini ada sebuah buku yang terjual?”

Sampai di suatu kesempatan, datang sebuah panggilan untuk menengok nasib buku tersebut. Dan hal itu membuat saya mengkaji ulang, “Hal apa yang mesti saya ubah, supaya ada yang membeli buku ini?”. Kemudian saya menyadari, barangkali saya harus mengubah kover buku tersebut. Sebab kover tersebut terlampau biasa saja. Saya pun tak menyukainya sama sekali. Akhirnya, saya mencari tukang buat kover buku yang dapat memenuhi kehendak saya. Tersebab buku saya amat kental nuansa surealis dan absurd, saya menginginkan, kelak kover itu dapat merepresentasikan isi buku tersebut sesuai keinginan saya. Dan setelah tanya sana-sini, saya menemukan orang katanya dapat memenuhi harapan saya. Saya mengontaknya segara. Kami bersepakat. Lalu jadilah kover yang sungguh memuaskan saya setelah revisi berulangkali. Kover tersebut cantik dan menawan sekali. Saya menyukainya.
           
Segera saja, saya mengontak penerbit buku itu untuk mengabari bahwa hendak mengganti kover buku saya. Mereka menyanggupinya. Silakan saja kirim kover tersebut, balas mereka. Saya sekali lagi, senang. Di hari yang sama saya mengirimkan kover tersebut. Setelahnya saya menunggu dengan buncahan perasaan bahagia tak terkira. Angin segar sebentar lagi bakal berembus, pikir saya kala itu.
           
Akan tetapi, lagi-lagi saya dikecewakan. Mereka, kalian tahu, menolak kover tersebut dengan alasan tidak sesuai dengan standar estetika mereka. Tubuh saya lemas seketika kala membaca balasan tersebut. Amarah menggelegak di dalam diri saya. Saat itu yang terpikirkan oleh saya adalah, mendatangi meja redaksi mereka, menggebrak meja, dan berujar, “Anjing!” di muka pemimpin redaksi. Yang segera saya sesali, sebab saat itu saya tengah berada di lingkugan kampus, dan pikiran itu mustahil buat direalisasikan.
           
Mencoba baik-baik saja, saya mencoba bernegosiasi dengan mereka. Sedikit mendesak supaya mereka mengganti kover buku saya. Saya melakukannya dengan keteguhan permohonan murid yang meminta nilai tambahan kepada gurunya. Namun, mereka tetap kukuh dengan pendirian tersebut. Dan buku saya tidak bisa diganti kovernya. Saya menyerah. Kecewa, tentu saja, tetapi mencoba melupakannya dengan memikirkan hal lain.


Di beberapa hari kemudian, saya memutar otak mencari jalan keluar. Saya ingin tetap menerbitkan naskah tersebut. Sebab biaya kover yang dikeluarkan, bagi saya bukan nominal yang kecil. Saya bisa rugi besar bila tetap abai akan nasib buku itu. Atas kesadaran tersebut, gagasan gila meloncat dari kepala saya: “Kenapa saya tidak menerbitkanya secara independen saja?” Setelah dipikir berkali-kali, itu bukan gagasan yang buruk pula. Saya menghitung kesempatan baik bila gagasan tersebut diwujudkan. Dan ajaib, saya menemukan hal itu tidak buruk sama sekali. Begini, sebelumnya naskah itu saya yakin tak mereka editori, sebab mereka menerbitkannya dalam hitungan hari. Kemudian, buku tersebut mereka jual kelewat mahal, dan royalti yang saya dapat kelewat mengenaskan. Setelah dipikir-pikir, saya rugi menerbitkan buku bersama mereka! Saya cuma diuntungkan dengan keberadaan ISBN di buku saya, yang yah memang saya tahu, untuk membubuhkan label tersebut memang membutuhkan biaya. Namun, tetap saja, saya dibuat rugi. Jadilah saya makin teguh pada pendirian buat menerbitkan buku itu secara mandiri. Tanpa penerbit dan ISBN.
           
Walhasil, saya menarik naskah tersebut. Saya men-layout dan mengeditorinya sendiri. Menambahkan dua buah cerpen di akhir, perubahan di sana-sini, dan menambahkan beberapa catatan. Benar, saya mengerjakan sendiri. Benar-benar sendiri. Sungguh tindakan arogan bagi seorang yang belum pantas disebut penulis ini. Yang tak saya lakukan sendiri cuma pembuatan kover dan menyetak buku tersebut. Sebab untuk mencetak buku, saya mencetaknya di satu percetakan di Yogyakarta, dengan biaya sendiri pula.
           
Begitu cetakannya usai, ketika itu saya cuma mencetaknya dalam 10 eks sampler buku. Sebagian besar segera sampai di tangan-tangan yang sebelumnya memang menginginkan buku saya dalam balutan baju baru. Satu per satu buku tersebut pun sampai di tangan beberapa kawan. Mereka tampak menyukainya. Baik isi cerita maupun kover buku saya. Namun, tidak dengan adik saya.
           
Ia, kalian tahu, langsung menodong saya dengan kesalahan fatal: Banyaknya typo di dalam buku saya. Dan setelah saya cek, kondisinya benar adanya. Sungguh, saya benar-benar kecolongan atas hal sesepele itu. Ia menjadi kafatalan yang tak semestinya terjadi. Saya amat menyangkannya. Betapa bodohnya diri saya. Seperti mengulang kesalahan yang hampir serupa, buku saya seperti keripik singkong yang digoreng buru-buru dengan potongan tak rapi dan taburan bumbu pedas yang asal-asalan, yang kendati ia kali ini bungkus dengan plastik yang lebih baik, ia bakal tetap tak sebanding dengan camilan mewah dan meriah lainnya yang jelas kualitas bahan dan komposisinya.
           

Share:

Saturday, September 21, 2019

Gue, Maba, dan Hal-hal Tak Penting Lainnya



Sebelum membaca lebih jauh, gue peringatin kalau apa yang tertulis di sini sungguh berpotensi membuat lo bosan, nguap berkali-kali, bahkan memaki betapa enggak pentingnya tulisan ini.

Nah, tapi kok ya tetap dibaca, loh. Udah, sana-sana. Jauh-jauh. Tinggalin blog ini. Pergilah ke ranah IG, Facebook, Twitter, atau ke manalah, yang jelas-jelas punya faedah buat hidup lo. Eh, masih ngeyel baca? Udah, deh. Tulisan ini sungguh enggak penting, enggak berguna, enggak ada tuh kata-kata motivasi apalah-apalah, gue bukan Jack Ma, ya, Sis dan Agan sekalian. Jadi, jangan masang ekspektasi tinggi atas tulisan ini.

Herannya, masih aja ada yang baca sampai sini. Kok, kayaknya lo penasaran banget, sih! Heh, gue bukan Raditya Dika, ya. Enggak ada tuh tulisan gue bikin lo ketawa. Jadi, sebelum waktu beberapa menit lo terbuang sia-sia, tinggalin deh blog ini. Pergi ke mana, kek. Stalking kating apa nge-WA-in teman seangkatan yang cakep, kek. Nggosipin kucing bunting punya tetangga lo, kek. Atau ke manalah. Terserah.

Bener-bener, dah. Kayaknya emang penasaran berat, nih. Sampai sini masih dibaca coba!

Oke, oke, saudara senenek moyang Homo Sapiens yang suka pusing ketika tanggal tua sekalian, karena lo masih mantengin tulisan ini, dengan rasa hormat setinggi tower Telkom, gue ucapkan terima kasih. Terima kasih atas kesedian lo buat mampir ke blog yang sempet mati suri ini. Terima kasih telah menjadi tamu terhormat di rumah bagi kediaman tulisan-tulisan gue ini! Terima kasih. Terima kasih. Makaseeehhh! XD

Baiklah, dengan disaksikan debu jalanan di atas tanah gersang dalam kemarau berkepanjangan ini, gue ucapkan selamat datang buat lo di tempat yang sedikit menggambarkan dunia yang baru gue jejaki, datangi, dan yang ke depannya menjadi ranah petualangan, mata air pengalaman, serta dimensi yang mempertemukan gue dengan banyak hal baru yang sama sekali enggak terbayangkan sebelumnya.

Perlu diketahui, tahun ini gue menjadi seorang Mahasiswa Baru. Yap, di umur yang menginjak sembilan belas tahun ini, gue baru menjejaki jenjang perguruan tinggi. For your information aja, jadi tuh gue Gap Year, gitu. Sebelumnya, gue sempet berniat memasuki dunia kerja pasca lulus dari SMK, gue juga sempet mempersiapkan diri dengan memperdalam kemampuan di bidang komputer dan bahasa Inggris di satu lembaga kursus untuk menajamkan kualitas diri supaya dapat bersaing di kerasnya dunia kerja. Akan tetapi, setelah melewati masa penggemblengan selama kurang-lebih empat bulan tersebut, dan kepercayaan bahwa diri gue sudah cukup mumfuni dan memiliki kecakapan, huh, ternyata gue masih dikalahkan oleh kerasnya dunia ini, Saudara-saudara. Sungguh, diri ini masihlah tidak ada apa-apanya. Penolakan demi penolakan, mampir lewat telepon yang mengabarkan kabar horror, kalau gue … ditolak!

Sejak itu, gue sempat frustrasi akan kemampuan diri gue. Betapa lemahnya diri ini, membuat gue enggak percaya diri. Beberapa bulan gue menjadi manusia yang menutup diri dari dunia luar. Beberapa kali gue pernah mikir buat mati, bunuh diri, bahkan mempraktikkan self harm dengan mukul-mukul kepala sendiri ketika tiba gue depresi akut dan merasa hidup ini enggak ada gunanya. Gila, kan? Ngeri, kan? Akan tetapi, di suatu kali, gue teringat akan mimpi-mimpi gue. Dan di puncaknya, hal tersebut menumbuhkan keyakinan, kalau hidup gue enggak berhenti sampai di sini, enggak berhenti cuma di kamar, doang. Bila tetep kayak gitu, mau jadi apa gue ke depannya?  Kalau terus-terusan berjibaku di dalam jurang keputus-asaan, mana mungkin gue dapat membanggakan orang tua? Akhir, bak cerahnya sang surya yang tersenyum di kala fajar, terbit pemikiran-pemikiran kalau harapan untuk berubah, itu masih terbentang lebar. Perjalanan gue sebagai manusia belum berakhir. Gue masih punya kesempatan untuk membelokkan arah nasib. dan mengubahnya ke arah yang lebih baik.

Gue Memilih Sastra Inggris

“Wahid, kamu punya mimpi jadi apa?” tanya mentor gue kala masih di lembaga kursus itu ketika kami terdampar di satu acara motivasi.

“Penulis, Sir!” jawab gue lantang.

Itu sedikit cuplikan yang gue alami ketika masih di proses penggemblengan diri. Hmm, gini-gini, jadi tuh kendati gue masuk ke lembaga itu untuk mempersiapkan diri supaya dapat bersaing di dunia kerja, perihal mimpi-mimpi ke depan enggak dibatasi, di acara tersebut kami bebas menuliskan impian dan keinginan apa pun yang ingin dicapai, kemudian membuat daftar step-step untuk menggapainya. Dan seorang penulis, adalah satu-satunya impian yang terbersit di dalam otak gue. Yup, kesukaan gue membaca karya sastra, lama-kelamaan menumbuhkan keinginan untuk turut serta menjadi seorang pengarang atau penulis. Tetapi, saat itu, prioritas gue tetap gimana caranya bisa dapet kerjaan, udah. Jadi, impian tersebut sementara gue sisihkan ke sudut lain, gue abaikan sampai kelak bakal dilirik lagi bila waktu menghadirkan rencananya yang tak terduga.

Kemudian, memang benar adanya. Seperti yang gue bilang sebelumnya, impian tersebut menghinggapi gue ketika diri ini masih berjuang dalam kejamnya perasaan frustrasi yang menggerogoti tubuh. Teeng’ Impian untuk menjadi penulis, muncul di benak dengan kuatnya, amat menggebu-gebu. Dan hal itu, dipantik lagi ketika gue jatuh cinta dengan tokoh Amba di novelnya Laksmi Pamuntjak yang berjudul sama: Amba. Sedikit tentang wanita hebat tersebut, ia adalah seorang penerjemah lulusan Sastra Inggris UGM tahun ’60-an. Gue bener-bener jatuh cinta sama dia. Tentang dirinya. Petualangannya. Bagaimana ia menempuh pendidikannya. Membuat gue yakin, kalau gue harus jadi seperti dia. Atau minimal, gue harus mengikuti jalannya di bidang tersebut. Alhasil, gue jadi memantapkan diri, di tahun 2019 ini, gue harus kuliah, dan jurusan yang gue ambil adalah Sastra Inggris.

Enggak sampai di situ, selanjutnya, gue mulai tertarik di dunia edit-mengedit. Pengalaman membantu mengedit cerita temen ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Ditambah lagi, gue pernah sekali membantu salah satu penerbitan indie buat mengeditori satu naskah novel. Berat memang. Kudu teliti. Bahkan di beberapa waktu, gue sempet tinggalin dan enggak disentuh. Tetapi, lagi-lagi, pengalaman itu memiliki keasyikan yang enggak kalah sama proses menulis. Lebih dari itu, menjadi editor dituntut lebih peka, tajam menginterpretasikan satu adegan, sabar, dan di punggungnya terpikul tanggung jawab untuk menjadikan naskah tersebut layak diterima pembaca. Dan kelak, kalau gue ingin menempuh jalur itu, salah satu syaratnya adalah menjadi orang dengan latar belakang lulusan Sastra.

Hmm, dari ketiga pemantik itu, cukuplah bagi gue dijadiin alasan kenapa gue memilih jurusan ini.

Kenapa di Universitas Teknokrat Indonesia?

Sebab setahu gue, di Lampung, kampus yang memiliki prodi Sastra Inggris, ya universitas ini. Gue juga punya temen yang dulu seangkatan yang lebih dulu masuk sini. Yah, tahulah, faktor supaya ada temennya itu sungguh-sungguh memengaruhi seseorang apabila ia ingin masuk ke satu dunia yang sama sekali baru, intinya, biar enggak dungu-dungu amat kayak orang ilang yang bingung enggak punya temen. (Anjir, ini gue ngomong apa, sih?)

Udah, langsung alasan berikutnya. Dan itu adalah, karena universitas ini menyediakan jalur Bidikmisi yang kalau tembus, Masya Allah, Akhi-Ukhti sekalian, sungguh-sungguhlah menggiurkan bagi kantong kaum jelata nan misquen ini. XD.

Alhamdulillah-nya, gue yang jadi salah satu orang beruntung, sebab tiket bidikmisi tersebut jatuh ke tangan … gue! Masya Allah ….

Ini Foto Bersama anak-anak Bidikmisi 2019. Gue yang kedua dari kanan, cowok paling pendek itu.

Enggak sampai di situ, Saudaraku setanah air yang suka ngamuk kalau kuota habis sekalian, sebab di universitas ini, gue dipertemukan kembali dengan dua orang temen terbaik yang sempet terpisah di bangku menengah atas soalnya kami beda sekolah. Takdir itu terkadang punya selera humor yang tinggi, ya. Ini, loh, kami dipertemukan di tempat yang sama, dengan kondisi yang sama-sama, pula (baca: Gap Year).

Masya Allah ….

Formasi aslinya empat orang, but, satunya lagi melancong ke Jogja.


Tentang Acara Propti

Gila, lo masih betah baca tulisan ini? Emang penting, gitu? Enggak, kan? Udah, sana-sana. Udahan aja.

Lah, masih ngeyel. Ya udah, gue lanjutin, deh.

Jadi, propti ini akronim dari Program Orientasi Pendidikan Tinggi (catet! Kali aja ada yang enggak tahu). Kebetulan, gue kebagian gelombang kedua, sebab beberapa bulan silam Universitas Teknokrat Indonesia udah lebih dulu menggelar acara serupa.

Acara ini digelar selama tiga hari, 19-21 September 2019. Dilangsungkan di gedung GSG universitas tercinta, dengan semilir angin dari kipas yang sialnya enggak menyeluruh menjangkau tubuh-tubuh yang mengenaskan dililit gerah dan rasa panas. Auto kipas-kipas sendiri ….

Mau tahu apa perasaan gue ketika dipertemukan sama Maba lainnya?

Jawabannya adalah, minder. Yup, penyakit sialan yang sejak dulu menjakiti diri gue di tempat dan suasana baru. Asli, jujur, gue ngerasain ini. Ya, mungkin ini bagian dari berlebihannya mindset kalau gue berada di bawah mereka. Baik dari segi penampilan dan isi otak. Kendati gue siswa Bidikmisi, yang tentu saja semua orang sepakat, kalau orang-orang seperti kami ini bukan orang sembarangan, tapi hal itu tetep enggak membendung diri gue untuk enggak merasa minder.

Menjadi Peserta Terbaik Propti Mahasiswa Baru

See? Yak, gue ya ono, noh.

Ini sama sekali awkward. Apa yang spesial dari diri gue? Kenapa gue terpilih dari seribu lebih peserta lainnya? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaa?

Gini, lo tahu enggak, acara propti yang tiga hari ini, utamanya adalah diisi dengan materi-materi yang disampaikan guna menggugah jiwa muda kami. Disampaikan oleh para pemateri yang setidaknya terdiri dari delapan narasumber yang sorry banget gue lupa siapa aja tetapi yang pasti ada Bapak ketua yayasan, Bapak Rektor, pihak dari BNN, pihak dari lembaga pendidikan di Lampung, serta perwakilan dari TNI. Selebihnya, gue lupa siapa-siapa aja. Dari mereka, banyak banget pesan dan informasi yang beliau-beliau paparkan. Misalnya, menyoal Literasi Baru, era revolusi 4.0, betapa pentingnya bela negara, tentang narkoba, dan beberapa hal penting lain yang sorry banget, sekali lagi gue lupa apa-apa aja. Dan, dari pemantik informasi dari beliau-beliau sekalian tersebut, kami dipersilakan untuk menanyakan seputar topik yang sedang dibicarakan. Banyak, dong dari kami yang getol nanya ini-itu. Bahkan acap kali sampai rebutan dan ada Maba yang malah enggak dapet kesempatan buat tanya. Duh, jadi kasiaan ….

Berangkat dari peran kami dengan mengutarakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, ternyata itu menjadi salah satu poin yang diperhitungkan untuk memilih siapa yang pantas menyandang siswa terbaik di propti ini. Jelas hal itu enggak semuanya kami ketahui. Dan gue, sebenarnya enggak memenuhi-memenuhi amat syarat tersebut. Heh, gue tanya itu kayaknya enggak lebih dari empat kali, loh. Gue lihat juga, ada beberapa tuh, yang itensitas tanyanya gencar banget, juga pertanyaannya yang jauh lebih berbobot.

Lalu, kok, gue yang kepilih?

Entahlah, mereka, para penyelenggara acara ini jelas yang tahu pasti jawabannya. Mungkin, ada bejibun aspek lain yang dilihat, yang sama sekali enggak kami ketahui apa itu.

Makanya, gue bener-bener enggak ngerti kenapa diri ini bisa terpilih. Sebelum pengumuman siapa siswa terbaik itu, beberapa jam ke belakang, gue memang dipanggil ke belakang, dibawa ke satu ruangan untuk menemui seorang dosen Sastra Inggris. Di situ, gue dikasih tahu untuk segera membuat teks pidato yang mewakili peserta putra atas kesan dan pesan terselenggaranya acara propti ini. What? Pidato? Gila, seumur-umur gue enggak pernah ngelakuin itu, Saudara-saudaraku sekalian. Pengalaman tampil di depan umum gue ketika sekolah dulu adalah menjadi pembaca doa di setiap upacara bendara di hari Senin. Sudah. Itu saja. Lebih gila lagi, gue disuruh bikin sendiri teksnya! Aiiiish, auto gupek gue. Lha gimana enggak bingung mau nulis apa, soalnya kendati gue suka nulis, tetapi gue terbiasa nulis fiksi, dan fiksinya tuh, ya, bener-bener fiksi. Contohnya ini. See? Perasaan enggak percaya diri pun makin kuat menghinggapi diri gue. Asli, gue enggak yakin sama diri sendiri.

Dan ketidakyakinan itu pun berbuah atas penampilan gue yang, yang, yang, (gue enggak sanggup ngomongnya), yang, mengecewakan. Teks yang gue tulis, enggak terbaca semua. Lebih parah, gue nyebut Bapak Rektor, padahal orangnya enggak ada. Lebih parah lagi, gue nyebut Universitas Indonesia! Alih-alih Universitas Teknokrat Indonesia! Gila, setelah turun dari podium, tulang gue rasanya meleleh, gue lemes, gue pengin keluar, gali tanah, terus ngubur diri sendiri karena saking malunya. Asli, gue enggak ada apa-apa dibanding perwakilan putri yang diwakilin sama salah satu temen Bidikmisi juga. Lha gimana enggak lebih baik? Dia pakai bahasa Inggris, ngomongnya lancar, tubuhnya enggak bergetar, enggak ada yang terlewat, dan mendapat tepuk tangan lebih meriah! Tamat sudah riwayat gue. Keringat bercucuran membasahi tubuh. Wajah merah padam. Kaki gemetar. Jantung rasanya anjlok ke lambung. Dan gue pengin nyemplung sumur.

Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, seharusnya gue patut bersyukur, dong. Gini, gini, dari sekian banyak Maba lainnya, yang terpilih adalah gue! Ini kesempatan yang bagus buat nunjukin personal branding gue, kan? Atau mungkin, Tuhan sedang menjalankan rencananya untuk kebaikan diri ini, sebab dengan terpanggilnya gue dan menyampaikan pidato di depan ribuan orang lainnya, gue jadi memiliki pengalaman dipermalukan. Dan hal itu dijadikan refleksi kalau ke depannya, gue enggak boleh mengulangi hal yang sama. Lebih dari itu, di kesempatan yang akan datang, gue harus lebih baik lagi, lagi, lagi, dan lagi. Gue harus mengatasi itu semua. Kekuarangan diri tersebut. Sampai, gue enggak lagi gemetaran, malu-maluin, mengecewakan, dan orang yang menyaksikan gue berbicara, akan bangga dan memandang kagum serta memberikan tepuk tangannya yang meriah.

Hari ini, acara propti itu sudah berakhir. Gue resmi menjadi mahasiswa, resmi memasuki dunia baru, dan gue dituntut untuk siap menghadapinya. Memang, gue tahu hari esok bakal lebih berat, tetapi bila hati penuh keyakinan dan diri ini mengerahkan segenap kemampuan untuk belajar, semuanya akan terlewati, bukan?

Ya ampun, lo baca sampai selesai tulisan ini? Heh, emang ada yang penting?

23. 45. WIB
Tanjung Bintang, 21 September 2019







Share: