Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, March 31, 2019

Kering

Hai, Melati. Matahari. Wahai, Pagi.
Kau tahu, aku kering. Kerontang datang makin sering. Rasa itu, seperti berpaling.
Aku kira benar, bahwa saat-saat terbaik yang dimiliki manusia adalah, ketika hati penuh bianglala, sisa hujan yang membuat dada kita basah, membasuh segala yang lalu, apa pun itu.
Dan kini, jangankan bianglala, mendung pun enggan datang. Sendang itu kering airnya.
Siklus itu mati. Terhenti.

31 Maret 2018
Share:

Thursday, August 23, 2018

Puisi - Pohon Baru dalam Kepalaku


Pohon Baru dalam Kepalaku

Kemarin pagi, kusemai satu benih
di rimba kenangan dalam kepalaku.
Tepat di sebelah pohonmu yang telah
lama mengakar di situ.

Masih sama.                                               
Pohonmu tumbuh subur;
Daundaun merimbun penuh peristiwa;
Rantingranting menjuntai memisahkan masa;
Sulursulur yang membelit kita dari waktu ke waktu;
Dan akarakar yang menyimpan anganangan masa lalu.

Pohonmu selalu kujaga, kurawat. Kautahu?
Dedaun yang kering kubuang, agar kubisa menikmati kenangan dengan tenang.
Reranting rusak kubakar hingga jadi abu, karna itu menghambat jalan kisah di pohonmu.
Serta tak lupa, tiap malam, kubawa keluar rumah, bermandikan pijar candra
kusiram pohonmu dengan air mata.

Selepas menyiramimu,
pada malammalam yang sunyi,
sang bayu menggamit dedaunanmu,
gemerisik gesekan daun dan ranting.
Kita tertawa, berjalan, bercanda, dari daun ke daun,
menyebrangi rantingranting,
bergelantungan di juntaian sulursulur waktu.

Aku mengenangmu.

Kemarin siang, benih yang baru kusemai mulai tumbuh.
Ia akan menjadi satu di belantara
kenangan dalam kepalaku.
Bersama pepohonan lain di situ.
Ya, ia tumbuh di sebelah pohonmu.
Kurasa, ia akan jadi pohon yang mengakar dalam sepertimu,
punya daun yang indahindah,
ranting yang menguatkan,
dan sulur yang saling mengikat erat.

Tadi malam, sebuah daun merekah di rantingnya.
Tadi malam, maaf, aku tak menyiram pohonmu dengan air mata.


Lampung, 24 Agustus 2017.
Share:

Wednesday, August 8, 2018

Puisi - Padamu yang Pergi

Bersamanya, yang pernah singgah di hati.

Padamu yang Pergi

Untukmu,
yang pernah menyulut bara renjana di dada,
yang pernah mempercayai hati untuk kujaga.
Untukmu,
yang pernah mengirim rindu untuk kuderita,
yang pernah membelah waktu untuk berdua.

Terima kasih.
Untuk kesempatan mencintai
dengan janji suci sampai mati.
Untuk saat saat bersama
ketika kita membagi duka,  merangkai bahagia.
Untuk kiriman rindu yang menemaniku
saat sepi menjamu waktu.

Maaf,
untuk perhatianmu yang justru ku anggap berlebihan
serta kasihmu yang sering kuabaikan.
Maaf,
jika hatiku sering membuatmu cidera
sedang hatimu serasa kupenjara.
Maaf,
atas diriku yang tak sadar
telah menelantarkan cintamu yang mengakar.

Dahulu, memanglah salahku.
Diammu kusangka kau telah bosan.
Jarak yang melebar kukira cintamu yang pudar.

Aku tak mengerti.
Mengapa berpaling kulakukan dengan mudah,
sementara dirimu menungguku dengan tabah.
Mengapa cinta itu makin kulepaskan,
sementara sekuat tenaga kau mencoba ‘tuk bertahan.
Mengapa kubaru merasa bersalah,
setelah kau memutuskan untuk menyerah.

Kau pergi menyisakan arah untuk kugapai lagi.
Namun sayang, hatimu tak lagi membuka diri.

Kini.
Sesalku menumpuk di dada karena cerita kita berakhir nestapa.
Janji hingga akhir hayat tinggal angan-angan yang tak terwujudkan.
Kisah manis kita tertinggal di kepala berbingkai kenangan.
Dan rindu masih menjamah malam-malam tanpa gegap-gempita.

Darimu kumasih belajar,
untuk mencintai sekaligus melepas pergi.

Juli, 2018


Share:

Sunday, July 15, 2018

Puisi - Membayangkanmu

Membayangkanmu


Aku suka sekali bermain pikiran
untuk membayangkanmu.
Baik pada waktu senggangku,
pun kala menyelami kesibukan.

Di kepalaku, kau adalah seorang peran utamanya.
Orang yang termat penting di dalam kisah-kisah
dan tiap lakon cerita di dalamnya.

Aku adalah sang sutradara,
selain sebagai pemeran yang menemanimu.

Kisah pertemuan adalah salah satu kisah
yang paling kunikmati.
Aku suka, ketika kita kali pertama berjumpa
di dalam gerbong kereta yang menghempaskan
kenangan jauh ke belakang.
Senyummu yang rupawan, adalah hal yang
tak terelakkan.
Pandanganmu yang malu-malu, adalah hal yang ampuh
menggetarkan kalbu.
Kisah itu usai dengan terdamparnya kita
di kursi panjang pinggir gerbong.
Berdua saja.

Suatu kali, kita bermain lakon lain.
Kita bermain kisah,
seorang kekasih yang duduk bersama
di tepi laut, memandang senja yang akan jatuh.
Kita,
saling melempar canda, kita tertawa.
Kita,
menyatukan rasa, melekat dua insan yang bahagia.
Berdua saja.

Banyak lakon kita lakukan.
Kisah-kisah yang bahagia.
Cerita-cerita penuh makna.
Namun tak membuat luka.

Karena, aku memang sengaja, untuk tidak
menempatkan kesedihan dalam khayalanku.
Cukuplah itu terjadi di dunia nyata.
Yaitu, ketika,
kau yang tertabrak mobil tepat di depan mata
sebelum diriku sempat menyapamu untuk berkenalan.

Lampung, 12 Mei 2018
Share:

Puisi - Awan dan Laut

Awan dan Laut


Samudra biru terhampar, itulah diriku.
Awan putih berarakan, itulah dirimu.
Lautku ada, untuk menampung bayanganmu.
Awanmu hidup, untuk menghapus dahaga sepiku dengan hadirmu.

Kita, selalu berbagi,
tanpa henti.
Tak mengapa,
apapun yang kuberi, dan kuterima.

Bahagiaku menguap bersama mentari, itulah yang kuberi.
Sedihmu meluruh, menghujani, kuterima senang hati.

Lautku tak bertepi tempatmu menitipkan sepi.
Lautku dalam tempatmu menenggelamkan kesedihan.
Lautku jernih tempatmu membasuh luka menahun mangandung perih.
Lautku sendiri hanya untukmu seorang diri.

Awanmu berarak menemani nyanyian senduku dalam ombak berderak.
Awanmu melayang tenang meneduhkan karang.

Aku ada sebagai lautmu.
Laut yang menanggung sepimu.
Laut yang menenggelamkan sedihmu.
Laut yang membasuh lukamu.

Aku ada untuk hidupmu sebagai awan.
Awan yang meluruhkan air mata.
Awan yang melukiskan cerita-cerita.
Awan yang menyimpan rahasia.

Kau selalu jadi awan,
untuk keberadaanku.

Aku selalu jadi laut,
untuk hadirmu.


Lampung, 2018.

Share:

Puisi - Kau adalah Rahasia

Kau adalah Rahasia

Kau adalah rahasia.
Sejalin benang yang selalu
menggodaku untuk mengurainya.
Seuntai bahasa tanpa aksara,
tetapi oleh rasa.
Memahami: adalah satu-satunya cara
yang meski laun perlahan,
namun hanya itu kuncinya.

Wajahmu, adalah teka-teki
yang menyimpang seribu satu misteri,
tanpa emosi yang sulit kuterka ada apa di baliknya,
namun aku ingin selalu mengerti maknanya.
Pandanganmu sering berkelana, entah menatap apa.
Kadang jatuh ke tanah, kadang juga ke angkasa.
Di matamu, kekosongan adalah hal biasa,
yang sering kali membuatku ingin menepatinya.

Diam adalah kebiasaanmu
yang melekat tiap kali kita bertemu.
Dalam udara yang berubah jadi jemu,
pada mulut yang kelu, aku selalu ingin  mengatakan padamu:
kau selalu membuatku
ingin menyingkap semua tentangmu.

Aku sering bertanya-tanya, di dalam palung hatimu,
adakah diriku di sana?
Hatimu adalah labirin, yang sulit kuterka ke mana ujungnya; ada siapa di sana.
Aku telah mencoba memasukinya, memeriksa tiap-tiap gangnya,
berjalan menyusurinya, hingga diriku tiba di ujungnya.
Ujung yang masih memiliki ujung; entah ke mana.

Hati dan dirimu tetap jadi rahasia.

Lampung, 2018.

Share: